Saturday, January 04, 2003

Cinta Sejenis Murni dari Setan



Pertanyaan:

Assalaamu'alaikum Wr Wb

Ustadz, saya seorang laki-laki, ketika masih kelas satu SMP saya jatuh cinta dan tergila-gila pada teman wanita saya sebut saja si A, pada kali pertama bertemu. Kami berpisah setamat SMA. Saya melanjutkan sekolah di kota lain.

Memasuki tahun kedua, saya jatuh cinta pada seorang laki-laki, sebut saja B, adik kelas, juga pada waktu pertama kali bertemu dengannya. Perasaan itu sering membuat salah tingkah bila bertemu dengannya, sehingga saya selalu berusaha menghindari bertemu dengan B. Lulus kuliah membuat saya lega.

Selanjutnya saya bekerja di kota P. Sungguh tak pernah terpikirkan oleh saya dan membuat saya terkejut setengah mati, bila kemudian ternyata B juga bekerja di tempat yang sama dengan saya, satu kantor lagi!! Ini membuat saya stres. Akhirnya saya memutuskan untuk sesedikit mungkin bertemu dan berbicara dengannya. Aneh sekali setiap kali saya berusaha menghindar, justru secara tak terduga, kami sering bertemu.

Dua tahun kemudian saya memutuskan untuk menikah. Pilihan yang berat, karena setelah dengan A, saya tak tertarik lagi untuk jatuh cinta dengan wanita. Atas bantuan teman, saya menikah dengan wanita yang belum pernah saya kenal sebelumnya, sebut saja C. Pelan-pelan saya bisa menerima kehadirannya dan mulai bisa mencintainya, apalagi dengan hadirnya anak-anak. Dan mulai bisa melupakan masalah A dan B.

Sekarang saya percaya diri. Hanya saja, entah mengapa, akhir tahun 1998 lalu, aku jatuh cinta lagi pada B. Kali ini benar-benar membuat saya stres dan bingung. Karena pada saat yang sama entah mengapa, perasaan cinta pada istri saya hilang begitu saja. Saya begitu bahagia bila selalu bersama B. Sehari saja tak bertemu B, membuat saya bingung, tak nyaman dan serba salah.

Awal 2001 saya dan B, dimutasikan. Saya di kantor pusat, dan B di kantor perwakilah daerah S. Perpisahan ini membuat saya stres, nervous sekali. Seringkali saya menangis karenanya.

Posisi saya di kantor membuat saya bisa/harus selalu berhubungan dengan kantor-kantor di perwakilan daerah. Sehingga kami masih selalu berhubungan dengan telepon. Akhirnya, saya sempatkan untuk berkunjung ke rumah B, dan berterus terang menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri saya. Dia terkejut, dan mengatakan bahwa dia tak bisa membantu saya.

Tiga bulan yang lalu B menikah di kampung halamannya. Saya menyempatkan diri menghadiri acara pernikahan B. Sejak itu saya benar-benar merasa kehilangan. Sampai saat ini saya masih tak bisa melupakannya. Dan selalu ada perasaan bersalah saya pada istri saya.

Saya ingin berterus terang, namun khawatir akan mengacaukan rumah tangga kami, dan menyakiti perasaan istri yang begitu mencintai saya. Kadang ingin rasanya hidup menyendiri, sendiri.., namun pikiran sehat saya mengatakan bahwa hidup dalam pernikahan, dalam keluarga adalah masih lebih baik, meskipun harus mengorbankan perasaan.

Mohon nasihat dan saran ustadz. Terima kasih banyak atas kebaikan ustadz. Jazakallahu khairon katsiro.
Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
P di Surabaya

Jawaban:

Assalaamu'alaikum Wr Wb

Kami sungguh ingin mengucapkan secara langsung kepada anda agar “teruslah memakai pikiran sehat anda”, sebagaimana anda menyatakan di akhir surat. Tentunya anda sudah tahu bahwa LIWATH atau percintaan sejenis kelamin adalah haram dalam Islam dan lebih besar lagi mudharatnya daripada zina biasa (zina saja sudah dosa besar apalagi liwath). Begitulah tinjauan hukum Islam, halal haram sebagaimana dalam tuntunan teks hukum (Al Qur’an dan dan Hadits) dan kemudian juga tidak terlepas dari pembahasan manfaat dan mudharat.

Dalam dua sudut tinjau ini (Hukum dan manfaat mudharat) liwath sama-sama haram. Liwath sebelum sampai ke hubungan badan mengandung mudharat psikologis yang tak kalah hebatnya dengan selingkuh, istri menjadi cemburu, curiga dan mungkin ingin membalas (na’udzubillah), anak menjadi malu, hilangnya mawaddah dan rahmah, apalagi sakinah dalam rumahtangga. Sama saja membangun neraka dunia!

Kegelisahan melanda kedua pihak, suami dan istri, bahkan , maaf, jika istri anda benar-benar sadar apa yang anda alami (mudah-mudahan belum tahu dan mudah-mudahan belum sampai hubungan badan) bisa jadi istri anda merasa jijik. Ini sangat merusak hubungan anda selanjutnya dengan istri. Cegahlah jangan sampai demikian.

Hal lain yang juga perlu anda ingat-ingat dengan baik adalah bahwa setan amat ingin menyesatkan manusia sejauh-jauhnya. Berbagai tipu daya terus diupayakan agar anda dan istri semakin jauh dan ingatan anda kepada si B semakin kuat. Bahkan bisa jadi si B juga digoda untuk sekali-sekali menghubungi anda lewat telpon, misalnya. Ini akan menjadi “bahan bakar” bagi perasaan anda yang tidak benar tersebut.

Seperti anda katakan sendiri dalam surat anda: “namun pikiran sehat saya mengatakan bahwa hidup dalam pernikahan, dalam keluarga adalah masih lebih baik, meskipun harus mengorbankan perasaan”. Perasaan, dalam hal ini harus dikalahkan, sebab perasaan tersebut tidak benar dan akan menyeret ke neraka. Sesaat di sana (kampung akhirat) nanti, perasaan anda akan berkata lain dan mengkhianatai anda bahkan menyalahkan anda: “Mengapa dulu kamu memperturutkan hawa nafsu, sekarang kita semua harus menanggung akibat siksa Allah yang amat pedih!”.

Saat ini perasaan anda sedang tertipu setan, sebab kecenderungan liwath sama sekali bukan fitrah. Cinta terhadap lawan jenis adalah fitrah, tinggal lagi harus diresmikan dengan nikah, namun cinta terhadap sejenis sampai kapanpun tetap tidak boleh dan keluar dari fitrah, artinya itu murni dari setan!

Cobalah anda renungkan apa kiranya nasib anda jika anda harus menghadapi azab Allah karena anda telah memperturutkan setan dan menelantarkan cinta istri yang baik, nikmat mempunyai keluarga yang baik, tahukah anda bahwa banyak orang yang diuji karena istrinya yang tidak baik dan bejat? Anda diberi nikmat, oleh karena itu anda harus syukuri.

Firman Allah : “Jika kamu bersyukur, sungguh-sungguh Allah akan menambah nikmat-Nya padamu, jika kamu kufur terhadap nikmat-Nya, sungguh-sungguh azabKu amat pedih!”Wallahua’lam bishshowwaab.

Wassalaamu'alakum Wr Wb
HM Ihsan Tanjung dan Siti Aisyah Nurmi



Homoseksual Lebih Keji Dibanding Zina



Tanya:

1. Bagaimanakah hukum nikah (boleh tidaknya menikahi) seorang pezina?
2. Seorang homoseksual yang melakukan (maaf) sodomi apakah temasuk dalam kelompok orang yang dianggap berzina dan terkena hukum sesuai pezina 'normal'?
(Imam Hanafi, Surakarta, Jawa Tengah)

Jawaban:

Assalamualaikum wr. wb.
Menikahi seorang pezina boleh (sah-sah) saja. Namun, yang lebih baik adalah menikahi wanita yang bukan pezina. Sebab, hal ini sejalan dengan firman Allah yang artinya, "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik...." (An-Nuur: 26).

Adapun tentang homoseksual, sesungguhnya hukuman bagi pelaku homoseksual itu lebih berat daripada pelaku zina. Hal ini berdasarkan berdasarkan hadis Nabi saw dari Ibnu Abbas dan 'Ikrimah ra bahwa Nabi saw bersabda yang artinya, "Barangsiapa engkau temukan melakukan pekerjaan kaum Nabi Luth as (homoseksual), maka bunuhlah orang yang melakukannya dan orang yang dikerjai." (HR Abu Daud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan an-Nasa'i). Demikian, wallahu a'lamu.
Wassalamualaikum wr. wb.

Hadits tentang Homoseksual



Islam menyebut homoseksual dalam ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Dalam Islam, homoseksual dimasukkan sebagai kemaksiatan (pembangkangan) kategori dosa besar. Homoseksual diancam dengan hukum pidana (hudud/ta’zir).

Untuk lesbian, Islam menyebutnya sebagai musahaqah atau al sihaq. Musahaqah adalah menggesek-gesekkan faraj/klitoris sesama perempuan hingga tercapai kenikmatan bagi pasangan perempuan tersebut. Al Sihaq adalah menggesek-gesekkan alat kelamin pada tulang pinggul pasangan perempuan hingga tercapai kepuasan seksual.

Para ulama sepakat menyatakan keharaman lesbianisme berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim dan at-Turmudzi (Tubuh, Seksualitas, dan Kedaulatan Perempuan-Bunga Rampai Pemikiran Ulama Muda, Penerbit Rahima, Maret 2002, halaman 1-2).

Dibanding lesbian, Islam sering dan gamblang menyoroti gay. Dalam Al Qur’an, ayat-ayat tentang gay (kaum Nabi Luth) sering diulang-ulang. Namun, para ulama berpendapat bahwa apa yang dilakukan kaum Nabi Luth (liwath) juga berlaku umum pada semua praktek homoseksual.

Berikut hadits mengenai lesbian dan gay seperti dilansir dari buku Hukuman bagi Pezina dan Penuduhnya karya Fauzan Al Anshari dan Abdurrahman Madjrie, Penerbit Khairul Bayan, September 2002, hal 18-20:

Lesbian

Selain laki-laki bersetubuh dengan laki-laki, juga ada perempuan bersetubuh dengan perempuan yang disebut musahaqah (lesbian). Bahkan dalam sejarahnya,musahaqah lebih tua usianya dibandingkan dengan liwath (gay). Namun, hukum keduanya adalah zina dan wajib dikenakan hudud (hukuman pidana) sebagaimana hadits sbb:

1.Dari Abu Musa katanya,”Rasulullah SAW bersabda: Bila laki-laki menyetubuhi laki=laki maka keduanya telah berzina, dan bila wanita menyetubuhi wanita maka keduanya juga berzina (HR Al Baihaqi dalam Syu’abil Iman).

2. Berkata Jami’ bin Syadad Al Muharibi Abi Shakhrah: Liwath terhadap kaum wanita (musahaqah) pada kaum Luth telah ada 40 tahun sebelum liwath pada kaum laki-laki.” (HR Ibnu Abid Dunya, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Asakir dan Al Baihaqi dalam Syu’abil Iman)

3. Dari Watsilah ra katanya, “Rasulullah SAW bersabda:”Musabaqah di antara para wanita adalah zina di antara mereka )HR Ath Thabrani dalam Al Kabir)

4. Dari Watsilah ra, Rasulullah SAW bersabda:”Musahaqah para wanita adalah zina di antara mereka.” (HR Al Baihaqo dalam Syu’abil Iman)

Gay

Hukum rajam juga berlaku bagi pelaku tindak pidana homoseksual, yaitu seorang laki-laki bersebadan dengan sesama laki-laki, sebagaimana ditetapkan dalam beberapa dalil di bawah ini:

1. Allah berfirman dalam surat Al Ankabut (QS 29:29):”Apakah sesungguhnya kalian pantas mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemugkran di tempat-tempat pertemuan? Maka jawaban kaumnya (Nabi Luth as) tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”

Sebagian ahli tafsir mengartikan “taqtha’uunassabiila”: memutuskan jalan anak keturunan atau kalian mengahalangi jalan mausia dengan berbuat homoseksual.”

2. Dari Ikrimah dan Ibnu Abbas ra katanya:”Rasullullah SAW bersabda:”Siapa pun yang kalian pergoki melakukan perbuatan yang pernah dilakukan kaum Luth maka jatuhilah hukuman mati yang melalukan maupun yang diperlakukannya.” (HR Imam lima kecuali an Nasai)

3. Dari Ibnu Abbas ra katanya:”Rasulullah SAW bersabda:”Siapa saja yang kalian pergoki melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka jatuhilah hukuman mati si pelaku maupun yang diperlakukannya (HR Ahmad, Abu Dawud, an Nasai, at Tirmidzi,Ibnu Majah, dan al Baihaqi).

4. Dari Jabir sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:”Sesungguhnya kekhawatiran yang paling kutakutkan atas umatku adalah perbuatan kaum Luth (HR Ahmad, At Tirmidzi, al Baihaqi dan al Hakim)

5. Dari Ibnu Abbas ra katanya,”Rasulullah SAW bersabda,”Siapa yang kalian pergoki melakukan aperbuatan kaum Nabi Luth, maka jatuhilah hukuman matyi baik pelakunya maupun yang diperlakukannya (HR Abu Dawud, at Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan al Baihaqi)

6. Dari Said bin Jubair dan Mujahid, dari Ibnu Abbas ra yang mengabarkan tentang gadis yang didapati melakukan perbuatan seperti kaum Luth, maka wanita itu dirajam (HR Abu Dawud)

7. Dari Anas ra, Rasulullah SAW bersabda,” Siapa yang mati di antara umatku sedangkan dia berbuat seperti yang telah dilakukan kaum Luth, niscaya Allah akan memindahkannya kepada mereka, sehingga Allah akan menghimpun bersama mereka (HR al Khatib al Baghdadi dalam Attarikh)

8. Dari Jabir ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda,”Sungguh, hal yang paling aku khawatirkan atas ummatku adalah pebuatan kaum Luth (HR Ahmad, al Hakim, al Baihaqi dan imam empat)

9. Dari Abu Hurairah ra katanya,”Rasulullah SAW bersabda: Rajamlah baik yang di atas maupun yang di bawah, orang yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth (HR Al Baihaqi dan Ibnu Majah)

Sebagai tambahan, di Negara Malaysia dijelaskan hukuman al sihaq dan liwath. Dalam peraturan syariat Islam mereka tertulis al sihaq: hubungan jenis sesama perempuan. Hukuman: tidak melebihi RM 2,000.00 atau penjara tidak melebihi 1 tahun atau kedua-duanya. Liwat :hubungan jenis sesama lelaki.Hukuman: tidak melebihi RM 5,000.00 atau penjara tidak melebihi 3 tahun atau kedua-duanya.

Monday, December 30, 2002

Homoseksual adalah Ujian Keimanan



Pertanyaan:

Assalaamu'alaikum Wr Wb

Ustadz Ihsan dan istri, saya seorang pria kini berusia 25 tahun dan telah menyelesaikan S-1 di sebuah PTN. Dilihat dari usia tentu saya sudah sangat pantas untuk menikah dan teman-teman juga sudah menekan saya untuk segera menggenapkan dien. Saya bukan tidak mau ustadz, tapi ada sesuatu yang mengganjal dalam diri yang menghambat saya untuk segera menikah.

Ustadz, saya merasa bahwa saya adalah seorang gay/Homoseks karena tidak ada ketertarikan sedikitpun dalam diri saya terhadap lawan jenis, tapi sebaliknya, kepada sesama jenis. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan kelainan ini, tapi yang jelas ini sudah saya rasakan sejak saya kecil (sebelum usia sekolah) dimana dulu saya lebih suka berteman dengan lelaki yang saya anggap menarik.

Tapi saya belum merasa kalau itu sebuah kelainan. Saya baru menyadarinya ketika duduk di SMP saat membaca sebuah artikel tentang homoseks.

Ust.sampai hari ini tidak ada yang tahu tentang kondisi saya ini. Saya tidak cerita kepada yang lain karena saya khawatir terhadap reaksi mereka. Ust.saya juga jadi serba salah dalam menjalin interaksi dengan aktivis dakwah lain baik ikhwan maupun akhwat, tapi sampai saat ini saya tidak pernah melakukan praktek homoseks karena saya takut azab Allah dan reaksi ikhwah yang lain, walau keinginan ini selalu ada, bahkan belakangan keinginan itu makin keras.

Ustadz, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, saya ingin keluar dari situasi ini. Saya ingin normal seperti yang lain, punya istri, anak dan keluarga.

1. Apa yang harus saya lakukan selaku aktivis dalam kondisi ini agar bisa keluar dari masalah ini?

2. Apakah ahsan (baik) jika saya memaksakan memutuskan untuk menikah, karena saya khawatir nanti akan mendzolimi istri karena tidak bisa melakukan beberapa tugas sebagai suami (biologis) dan haruskah saya berterus terang kepada istri nanti jika keputusan tersebut saya ambil?

3. Bagaimana seharusnya saya berinteraksi dengan ikhwah yang lain karena tidak jarang muncul sahwat saya ketika berinteraksi dengan mereka. Atas jawaban Ustadz saya ucapkan jazakallahu khairan katsira.

Wassalaamu'alaikum Wr Wb

Jawaban:


Assalaamu'alaikum Wr Wb.
Kami tak pernah yakin dengan sebagian pendapat yang mengatakan kecenderungan liwath adalah bawaan lahir. Sebab, ini haram! Kami yakin Allah tak mengazab manusia sebelum ia berlaku salah apapun, apalagi dengan cara memastikan seseorang mempunyai bakat berdosa.

Kami khawatir kecenderungan ini muncul karena suatu alasan yang terjadi pada masa kecil anda tanpa anda sadari, atau.... ini hanya sebatas kelainan fisik dalam hal ini, masalah kelainan hormon, yang jika sudah diketahui penyebabnya, maka Insya Allah akan ditemukan obatnya. Yang jelas, saat ini, masalah ini adalah ujian keimanan untuk anda.

Alhamdulillah anda mengerti apa konsekuensinya liwath dalam Islam, Insya Allah selama anda konsisten memegang prinsip ini anda bisa menjaga diri dengan beberapa hal lain yang harus anda perhatikan. Baiklah, Insya Allah untuk penjagaan, kami menganjurkan beberapa “resep”:

1. Perbanyak shaum sunnah, bahkan cobalah shaum daud, 1 hari shaum 1 hari berbuka.

2. Kurangi makanan yang berpotensi meningkatkan gairah, (perlu tanya ahli gizi), misal, daging kambing, makanan-makanan dengan bumbu yang berat (terasa panas dan pedas). Perbanyak sayuran dan serat.

3. Perbanyak dzikir terutama dzikir pagi sore dan dzikr setiap waktu. Kalau bisa setiap saat anda membasahi lidah dan bibir dengan dzikir.

4. Hindari aktivitas yang menyebabkan anda bersama 1 orang ikhwah saja (konsepnya mirip dengan jangan berkhalwat dengan wanita), atau dengan pria lain manapun. Usahakan anda tetap berada di keramaian atau sendirian (untuk tidur dan istirahat).

Mengenai usaha penyembuhan, maka “resep” kami Insya Allah:
1. Berdoa sekeras mungkin agar Allah menormalkan keinginan anda, kami yakin ini adalah godaan setan yang berat.

2. Carilah dokter pria yang baik keislamannya yang mengerti masalah ini, misal, dokter Boyke (ahli kandungan) atau Prof Dadang Hawari (psikiater). Insya Allah mereka tahu apa tindakan medis yang diperlukan, misal pemeriksaan hormon, atau pemberian obat tertentu.

3. Mungkin ada baiknya anda mencoba menyukai anak kecil untuk menumbuhkan perasaan kebapakan anda. Misalnya dengan membiasakan mengasuh keponakan (jika punya) yang di bawah 1 tahun, atau mengunjungi teman yang sudah berkeluarga dan punya anak. Jangan terlalu banyak bergaul dengan anak laki-laki yang sudah agak besar.

4. Pendek kata, untuk sementara cobalah menjauhi rangsangan dan cobalah membangkitkan perasaan yang normal, misal mencoba memikirkan wanita macam apa yang anda suka sebagai teman bicara, atau tadi, mencoba menumbuhkan rasa kebapakan. Disamping usaha medis tadi, mengunjungi dokter yang dapat dipercaya.

5. Untuk sementara, abaikan saja ajakan orang untuk anda melamar wanita. Wallahua’lam bishshowwaab

Wassalaamu'alaikum Wr Wb
HM Ihsan Tanjung dan Siti Aisyah Nurmi



Friday, December 20, 2002

Kitab Suci Al Qur'an jelas-jelas sudah mengungkap praktek seksual menyimpang homoseksual ketika kitab suci itu diturunkan 14 abad lalu. Cerita Nabi Luth as adalah pijakan untuk mengurai praktek haram itu. Banyak kalangan menilai bahwa ayat-ayat tentang Nabi Luth as berkisah tentang gay (pria dengan pria) dan tidak lesbian. Lalu ayat mana yang menyentil homoseksual di kalangan perempuan? Menurut Prof Dr M.Quraish Shihab, lesbianisme diterangkan dalam Surat An Nisa ayat 15 dan 16. Berikut petikan tafsir ayat tersebut.

Naskah berikut disitir dari buku Quraish Shihab bertujudul TAFSIR AL-MISHBAAH (Pesan, Kesan dan Keserasian Al Qur'an), Volume 2, Penerbit Lentera Hati
November 2000


Lesbianisme dalam Al Qur'an




QS An Nisa: 15-16 (halaman 354-357)

Waallaatii ya/tiina alfaahisyata min nisaa-ikum faistasyhiduu 'alayhinna arba'atan minkum fa-in syahiduu fa-amsikuuhunna fii albuyuuti hattaa yatawaffaahunna almawtu aw yaj'ala allaahu lahunna sabiilaan

"Dan para wanita yang mendatangi perbuatan yang sangat keji dari wanita-wanita kamu, maka hendaklah kamu mempersaksikan atas mereka empat orang saksi lelaki di antara kamu. Lalu apabila mereka telah memberi persaksian, maka tahanlah mereka dalam rumah sampai maut menyempurnakan ajal mereka atau sampai Allah memberi buat mereka jalan (penyelesaian). Dan terhadap dua orang pria yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka jatuhilah hukuman kepada keduanya, lalu jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allag Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."

Sesuai dengan namanya -- surah an-Nisaa' (perempuan) -- dan seperti telah terbaca juga pada ayat-ayat yang lalu, perhatian utama yang ditekankan di sini adalah persoalan keluarga yang tiangnya adalah perempuan. Kalau dalam ayat-ayat yang lalu kaum lemah itu telah diberikan sebagian dari hak-haknya - dalam ayat-ayat lain diberikan lagi sisanya - maka pada ayat 15 di atas, dijelaskan sanksi-sanksi yang mengancam para wanita yang melakuka pelanggaran, khususnya yang berdampak sangat buruk di tengah masyarakat serta sangat bertentangan dengan kesucian keluarga maupun keharmonisannya.

Ayat 15 di atas menegaskan bahwa terhadap para wanita kamu wahai kaum muslim, yang mendatangi, yakni yang mengerjakan perbuatan sangat keji yakni berzina atau lesbian, dari wanita-wanita kamu yakni isteri-isteri atau bekas-bekas isteri kamu, wahai para suami, atau wanita siapa pun, telah kawin atau belum, maka hendaklah kamu benar-benar mempersaksikan atas perbuatan keji mereka itu, 4 orang saksi lelaki di antara kamu wahai kaum Muslim.

Mereka harus bersaksi bahwa mereka benar-benar menyaksikan wanita-wanita itu melakukan perbuatan dimaksud. Lalu apabila mereka telah memberi persaksian dan kesaksian mereka dapat diterima, maka - wahai penguasa - tahanlah mereka, yakni wanita-wanita itu dalam rumah, yakni penjarakan mereka atau lakukan tahanan rumah atas mereka agar mereka tidak keluar mengulangi perbuatan kejinya, sampai maut datang menyempurnakan ajal mereka, atau sampai Allah memberi jalan penyelesaian untuk mereka, apakah dengan perkawinan atau ketetapan hukum baru.

Dan terhadap dua orang pria yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, berzina atau homoseksual, dan dibuktikan pula dengan 4 orang saksi seperti yang disebutkan sebelum ini, maka wahai yang memiliki wewenang menjatuhkan sanksi, jatuhilah hukuman kepada keduanya, apakah dengan cemoohan atau cambuk, lalu jika keduanya bertaubat, yakni menyesali perbuatannya, tidak mengulangi perbuatan kejinya dan memperbaiki diri, dengan jalan beramal saleh dalam waktu yang cukup sehingga dia benar-benar dapat dinilai telah menempuh jalan yang benar, maka biarkanlah mereka, jangan lagi cemoohkan dia. Sesungguhnya Allah selalu Maha Penerima taubat bagi yang benar-benar bertaubat lagi Maha Penyanyang. Karena itu teladanilah Allah dalam segala sifat-Nya termasuk sifat menerima kembali orang yang bersalah dan menyanyanginya.

Sementara ulama berpendapat bahwa ayat di atas telah dibatalkan hukumnya (mansukh) oleh ayat yang menegaskan bahwa para pezina lelaki atau perempuan yang belum kawin jika terbukti berzina, maka dia dijatuhi hukuman cambuk sebanyak 100 kali (QS An-Nuur:2). Pendapat ini ditolak oleh para ulama yang menolak adanya pembatalan ayat-ayat al Qur'an, bahkan di antara ulama yang membenarkan adanya pembatalan ayat-ayat hukum, tidak sedikit yang berupaya mengkompromikan ayat ini dengan ayat an-Nuur di atas.

Antara lain dengan menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata faahisyah dalam ayat ini bukan zina, tetapi homoseksual. Ini menurut mereka karena kata al-laatii adalah kata yang digunakan menunjuk kepada sekelompok perempuan dan al-ladzaani menunjuk 2 orang lelaki, sehingga menurut mereka ayat 15 menunjuk kepada hubungan seksual wanita satu dengan lainnya dan ayat 16 menunjuk kepada hubungan homoseksual.

Salah satu pendapat yang juga sangat baik adalah yang menyatakan bahwa ayat ini bukan berbicara tentang orang-orang telah melakukan faahisyah yang berarti zina atau homo, atau mereka yang mendatangi tempat-tempat yang sangat buruk. Memang kata ya'tiina terambil dari kata ya'tii yang berarti mengunjungi.

Wanita-wanita yang mengunjungi tempat-tempat tidak terhormat hendaknya ditahan di rumah sampai mati, atau Allah memberi jalan keluar baginya berupa perkawinan. Wanita ditahan dan pria tidak ditahan tapi dicemoohkan karena wanita tidak berkewajiban bertebaran di bumi mencari rezeki dan dengan demikian keberadaannya di rumah tidak membawa dampak negatif bagi diri atau keluarganya, berbeda dengan pria yang harus keluar mencari rezeki.

Az-Zamakhasyari, pakar tafsir beraliran rasional, berpendapat bahwa ayat ini turun setelah turunnya ayat yang memerintahkan mencambuk pada pezina. Mereka setelah dicambuk ditahan di rumah/dihalangi di luar, sampai wanita-wanita itu kawin atau sampai para lelaki penzina itu bertaubat.

Memang seperti dikemukakan di atas, firman-Nya: maka biarkanlah mereka, berarti jangan lagi cemoohkan dia setelah jatuhnya sanksi yang ditetapkan Allah dan Rasul SAW. Pendapat ini baru dapat diterima kalau dapat dibuktikan kekeliruan pendapat mayoritas ulama yang menyatakan bahwa ayat-ayat surah an-Nisaa' itu turun mendahului ayat surah an-Nuur yang berbicara tentang hukuman cambuk bagi para pezina lelaki dan perempuan.

Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya'rawi yang memahami ayat di atas sebagai hukuman terhadap pelaku homoseksual atau lesbian menegaskan bahwa bahaya yang terjadi akibat hubungan antarwanita, walau belum sepenuhnya diketahui, tetapi dia pasti ada. Pria dan wanita diibaratkannya dengan 2 kawat yang bermuatan arus positif dan negatif, pertemuan keduanya melahirkan sesuatu yang bermanfaat yakni keturunan, tetapi mempertemukan positif dan positif atau negatif dan negatif mengakibatkan 'konsleting'. Demikian tulisnya.

Terlepas apakah contoh itu benar atau tidak, yang pasti kini telah terbukti dampak negatif bahkan bahaya yang sangat besar akibat hubungan pria dan pria, antara lain penyakit AIDS yang melanda masyarakat dunia. Memang belum terdengar akibat negatif dari hubungan seksual antar wanita, tetapi dapat dipastikan bahwa setiap pelanggaran pasti berdampak buruk, karena setiap pelanggaran terhadap fitrah pasti mengakibatkan keburukan. Telah merupakan fitrah makhluk -- tumbuhan, binatang maupun manusia -- melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Melangar ketentuan ini mengakibatkan apa yang dinamai uqubaat al fitrah/sanksi atas pelanggaran fitrah. Sanksi bagi hubungan antarpria telah terbukti dengan penyakit AIDS, tinggal lagi kita menunggu apa sanksi yang diakibatkan hubungan seks antarwanita.

Dari kata ya'tiina terambil dari kata ya'tii yang berarti mengunjungi, lahir kesan bahwa perbuatan faahisyah itu dilakukan dengan sengaja, karena yang bersangkutan mengunjunginya dan datang datang sendiri. Dari sini juga dapat dipahami bahwa agama masih dapat mentoleransi mereka yang melewati tempat-tempat yang tidak senonoh, atau berada di tempat itu tanpa sengaja.

Dari kata arba'ah dipahami bahwa saksi-saksi tersebut adalah lelaki. Ini bukan saja karena bila yang dimaksud perempuan, redaksi ayat akan mengatakan (tanpa ta'marbuthah) tapi juga seperti kata az-Zuhri,"Telah berlalu masa Rasul SAW dan kedua khalifah sesudah beliau, kebiasaan tidak menerima persaksian wanita dalam sanksi-sanksi yang bersifat huduud."

Ini karena sejak semula Al Qur'an dan Sunnah bermaksud menghindarkan wanita dari tempat-tempat mesum, apalagi menyaksikan kedurhakaan yang sangat buruk. Kalaupun ada yang menyaksikannya, maka biarlah mereka itu lelaki, itu pun diharapkan mereka tidak menyaksikannya, karena mereka juga diharapkan tidak berkunjung ke tempat-tempat yang bejat. Persyaratan penerimaan persaksian perzinahan yang demikian berat, serta perintah agar tidak mendekati tempat-tempat faahisyah menjadikan jatuhnya sanksi hukum terhadap pezina akan sangat sulit diterapkan. @
------------------------------------------------------------

Wednesday, December 18, 2002

Dalam agama Nasrani dan Islam, homoseksual selalu dikaitkan dengan Nabi Luth as. Karena praktek ini baru muncul di era nabi yang hidup semasa dengan Nabi Ibrahim as. Berikut sekilas kisah Nabi Luth as berdasar kisah yang dikabarkan dalam Al Qur'an:

Kisah Nabi Luth & Homoseksual



Luth adalah anak adik bungsu Ibrahim. Sejak Luth kecil, keduanya telah sangat dekat. Luth bahkan menyertai Ibrahim meninggalkan Babilonia menuju Palestina. Mereka semula bertempat tinggal di wilayah yang sama, dan sama-sama menjadi peternak. Namun keduanya kemudian berpisah. Ibrahim di wilayah barat Palestina, sedangkan Luth di wilayah timur yang kini merupakan bagian dari Yordania.

Riwayat menyebut, Luth pindah ke Timur setelah ia mendapat perintah Allah untuk menyeru kebajikan pada masyarakat Sodom dan Amurah. Selain itu, Luth juga menyebut pertimbangan lain. Menurutnya, dengan bermukim di tempat yang sama, penggembala ternaknya dan penggembala ternak Ibrahim sering bertengkar mengenai ternak mereka. Pergilah Luth ke wilayah makmur yang masyarakatnya menjadi pemuja dewa itu.

Warga Sodom dan Amurah juga pemuja nafsu. Mereka menyukai sesama jenis kelamin. Laki-laki menyukai laki-laki, perempuan menyukai perempuan. Sebagian besar mereka juga berkebiasaan merampok serta memerkosa musafir. Seruan Luth menjadi seperti sia-sia kecuali pada sedikit orang. Istri Luth bahkan terpengaruh mereka.

Allah lalu mengutus dua malaikat ke rumah Luth. Mereka menyamar menjadi dua orang pemuda tampan yang segera menjadi incaran para laki-laki setempat. Mereka mendesak Luth menyerahkan kedua pemuda itu. Mereka menolak tawaran Luth agar mengawini kedua putri cantiknya. Mereka menyebut bahwa Luth tahu yang mereka inginkan. Yakni laki-laki tampan itu.

Luth malu terhadap tamunya. Ia tak tahu, keduanya adalah malaikat. Luth pun marah pada warga setempat. Lalu malaikat itu menyampaikan firman Allah, agar malam itu juga Luth bersama keluarga dan pengikutnya segera meninggalkan tempat. "Jangan ada seorang pun diantara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu". Malaikat itu juga memberi tahu bahwa azab akan datang saat subuh.

Ketika Subuh tiba, Luth dan rombongannya telah meninggalkan wilayah itu. Negeri Sodom dan Amurah yang berada di dataran tinggi itupun longsor, dan musnah tertimpa reruntuhan batu serta cadas. Padahal mereka -sebagaimana bangsa setempat lain-dikenal piawai membangun kota di atas lereng-lereng batu seperti kini tersisa di beberapa situs di Yordania. Istilah "sodomi" untuk praktek homoseksual berasal dari kata "Sodom" tersebut.

Kisah Luth dan masyarakat Sodom mengingatkan manusia untuk menjauhi kebejatan moral yang tercermin dalam praktek homoseksual. Bila di masa Luth Allah menjatuhkan bencana longsor pada pelaku kebejatan moral itu, kini Allah mengganjar mereka dengan virus AIDS perusak kekebalan tubuh yang belum ditemukan obatnya.

Artikel terkait: Lessons from the Destruction of Sodom & Gomorrah @