Cinta Sejenis Murni dari Setan
Pertanyaan:
Assalaamu'alaikum Wr Wb
Ustadz, saya seorang laki-laki, ketika masih kelas satu SMP saya jatuh cinta dan tergila-gila pada teman wanita saya sebut saja si A, pada kali pertama bertemu. Kami berpisah setamat SMA. Saya melanjutkan sekolah di kota lain.
Memasuki tahun kedua, saya jatuh cinta pada seorang laki-laki, sebut saja B, adik kelas, juga pada waktu pertama kali bertemu dengannya. Perasaan itu sering membuat salah tingkah bila bertemu dengannya, sehingga saya selalu berusaha menghindari bertemu dengan B. Lulus kuliah membuat saya lega.
Selanjutnya saya bekerja di kota P. Sungguh tak pernah terpikirkan oleh saya dan membuat saya terkejut setengah mati, bila kemudian ternyata B juga bekerja di tempat yang sama dengan saya, satu kantor lagi!! Ini membuat saya stres. Akhirnya saya memutuskan untuk sesedikit mungkin bertemu dan berbicara dengannya. Aneh sekali setiap kali saya berusaha menghindar, justru secara tak terduga, kami sering bertemu.
Dua tahun kemudian saya memutuskan untuk menikah. Pilihan yang berat, karena setelah dengan A, saya tak tertarik lagi untuk jatuh cinta dengan wanita. Atas bantuan teman, saya menikah dengan wanita yang belum pernah saya kenal sebelumnya, sebut saja C. Pelan-pelan saya bisa menerima kehadirannya dan mulai bisa mencintainya, apalagi dengan hadirnya anak-anak. Dan mulai bisa melupakan masalah A dan B.
Sekarang saya percaya diri. Hanya saja, entah mengapa, akhir tahun 1998 lalu, aku jatuh cinta lagi pada B. Kali ini benar-benar membuat saya stres dan bingung. Karena pada saat yang sama entah mengapa, perasaan cinta pada istri saya hilang begitu saja. Saya begitu bahagia bila selalu bersama B. Sehari saja tak bertemu B, membuat saya bingung, tak nyaman dan serba salah.
Awal 2001 saya dan B, dimutasikan. Saya di kantor pusat, dan B di kantor perwakilah daerah S. Perpisahan ini membuat saya stres, nervous sekali. Seringkali saya menangis karenanya.
Posisi saya di kantor membuat saya bisa/harus selalu berhubungan dengan kantor-kantor di perwakilan daerah. Sehingga kami masih selalu berhubungan dengan telepon. Akhirnya, saya sempatkan untuk berkunjung ke rumah B, dan berterus terang menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri saya. Dia terkejut, dan mengatakan bahwa dia tak bisa membantu saya.
Tiga bulan yang lalu B menikah di kampung halamannya. Saya menyempatkan diri menghadiri acara pernikahan B. Sejak itu saya benar-benar merasa kehilangan. Sampai saat ini saya masih tak bisa melupakannya. Dan selalu ada perasaan bersalah saya pada istri saya.
Saya ingin berterus terang, namun khawatir akan mengacaukan rumah tangga kami, dan menyakiti perasaan istri yang begitu mencintai saya. Kadang ingin rasanya hidup menyendiri, sendiri.., namun pikiran sehat saya mengatakan bahwa hidup dalam pernikahan, dalam keluarga adalah masih lebih baik, meskipun harus mengorbankan perasaan.
Mohon nasihat dan saran ustadz. Terima kasih banyak atas kebaikan ustadz. Jazakallahu khairon katsiro.
Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
P di Surabaya
Jawaban:
Assalaamu'alaikum Wr Wb
Kami sungguh ingin mengucapkan secara langsung kepada anda agar “teruslah memakai pikiran sehat anda”, sebagaimana anda menyatakan di akhir surat. Tentunya anda sudah tahu bahwa LIWATH atau percintaan sejenis kelamin adalah haram dalam Islam dan lebih besar lagi mudharatnya daripada zina biasa (zina saja sudah dosa besar apalagi liwath). Begitulah tinjauan hukum Islam, halal haram sebagaimana dalam tuntunan teks hukum (Al Qur’an dan dan Hadits) dan kemudian juga tidak terlepas dari pembahasan manfaat dan mudharat.
Dalam dua sudut tinjau ini (Hukum dan manfaat mudharat) liwath sama-sama haram. Liwath sebelum sampai ke hubungan badan mengandung mudharat psikologis yang tak kalah hebatnya dengan selingkuh, istri menjadi cemburu, curiga dan mungkin ingin membalas (na’udzubillah), anak menjadi malu, hilangnya mawaddah dan rahmah, apalagi sakinah dalam rumahtangga. Sama saja membangun neraka dunia!
Kegelisahan melanda kedua pihak, suami dan istri, bahkan , maaf, jika istri anda benar-benar sadar apa yang anda alami (mudah-mudahan belum tahu dan mudah-mudahan belum sampai hubungan badan) bisa jadi istri anda merasa jijik. Ini sangat merusak hubungan anda selanjutnya dengan istri. Cegahlah jangan sampai demikian.
Hal lain yang juga perlu anda ingat-ingat dengan baik adalah bahwa setan amat ingin menyesatkan manusia sejauh-jauhnya. Berbagai tipu daya terus diupayakan agar anda dan istri semakin jauh dan ingatan anda kepada si B semakin kuat. Bahkan bisa jadi si B juga digoda untuk sekali-sekali menghubungi anda lewat telpon, misalnya. Ini akan menjadi “bahan bakar” bagi perasaan anda yang tidak benar tersebut.
Seperti anda katakan sendiri dalam surat anda: “namun pikiran sehat saya mengatakan bahwa hidup dalam pernikahan, dalam keluarga adalah masih lebih baik, meskipun harus mengorbankan perasaan”. Perasaan, dalam hal ini harus dikalahkan, sebab perasaan tersebut tidak benar dan akan menyeret ke neraka. Sesaat di sana (kampung akhirat) nanti, perasaan anda akan berkata lain dan mengkhianatai anda bahkan menyalahkan anda: “Mengapa dulu kamu memperturutkan hawa nafsu, sekarang kita semua harus menanggung akibat siksa Allah yang amat pedih!”.
Saat ini perasaan anda sedang tertipu setan, sebab kecenderungan liwath sama sekali bukan fitrah. Cinta terhadap lawan jenis adalah fitrah, tinggal lagi harus diresmikan dengan nikah, namun cinta terhadap sejenis sampai kapanpun tetap tidak boleh dan keluar dari fitrah, artinya itu murni dari setan!
Cobalah anda renungkan apa kiranya nasib anda jika anda harus menghadapi azab Allah karena anda telah memperturutkan setan dan menelantarkan cinta istri yang baik, nikmat mempunyai keluarga yang baik, tahukah anda bahwa banyak orang yang diuji karena istrinya yang tidak baik dan bejat? Anda diberi nikmat, oleh karena itu anda harus syukuri.
Firman Allah : “Jika kamu bersyukur, sungguh-sungguh Allah akan menambah nikmat-Nya padamu, jika kamu kufur terhadap nikmat-Nya, sungguh-sungguh azabKu amat pedih!”Wallahua’lam bishshowwaab.
Wassalaamu'alakum Wr Wb
HM Ihsan Tanjung dan Siti Aisyah Nurmi
